#SupportYongseo2017

#SupportYongseo2017

YONGSEO ALWAYS FOREVER

YONGSEO ALWAYS FOREVER

ACCIDENtALLY WE MARRIED !!




CHAPTER TWENTY FOUR

Bila ada orang yang membuat Seohyun benar-benar berharap memiliki ilmu sihir maka Yonghwalah orangnya. Tiga jam yang lalu saat dia akan meninggalkan rumah, dia berpesan agar Yonghwa beristirahat, tidur. Dan sekarang saat dia memasuki pintu rumahnya di lihatnya Yonghwa sedang berada di dapur sedang mengaduk-aduk sesuatu dalam panci diatas kompor.
Tapi Yonghwa hanya berbalik, mengucapkan selamat datang dengan senyuman khasnya tanpa merasa bersalah. Lalu kembali sibuk mengaduk-aduk masakannya.
Seohyun meletakkan tas kerja dan kantong belanja di meja dapur. Bersidekap dan menatap Yonghwa tak berkedip ada kemarahan di wajahnya.  “ Bukankah aku sudah memintamu untuk istrahat ? “, kata Seohyun berang. “ Apa yang kau lakukan di dapurku ? ‘.
Yonghwa tak menjawab hanya bergerak mengeluarkan mangkok yang besar dari lemari konter. Lalu dia mematikan kompor dan dengan santainya mengangkat panci dan menuangkan isinya ke dalam mangkok tersebut. Terlihat begitu santai dan tak mau tahu akan Seohyun yang sedang bersiap untuk meledak, akan meneriakinya.
“ Aku hanya sedang menyiapkan ttubokki. Lagi pula aku baru saja bangun kok, sumpah ‘, kata Yonghwa sambil mengacungkan dua jarinya.
Seohyun menarik napas mencoba meredakan kemarahannya. Dia sengaja pulang awal agar bisa segera menyiapkan makan malam, dia bahkan menyempatkan diri untuk berbelanja.
“ Padahal aku baru saja akan menyiapkan makan malam “, guman Seohyun setelah berhasil mengendalikan dirinya.
“ Kau masih bisa kok, lagipula ini hanya ttubokki bisa menunggu hingga makan malam siap “. Yonghwa tahu dia sudah membuat Seohyun sedih. “ Aku pikir kau masih akan pulang sejam lagi. Maaf ya “.
“ Apakah kamu lapar ? “, tanya Seohyun sambil mengangkat kantong belanjanya dan berjalan ke konter dapur. “ Kau bisa memakan ttubokki itu sambil menunggu aku menyiapkan makan malam kita. Bagaimana kepalamu ? Apakah masih pusing ? “.
“ Setelah tidur rasanya sudah terasa baikan “.
“ Syukurlah “. Seohyun mengeluarkan belanjaannya dan mengumpulkannya di meja konter dapurnya.
“ Kita akan makan apa untuk makan malam ? “.
“ Cream Spagetti ? “.
“ Makanan kesukaan aku itu ‘, sahut Yonghwa riang.
“ Baguslah kalau begitu “.
“ Wah aku tidak sabar “.
Seohyun kemudian mengeluarkan gulungan celemek dari laci konter, dan Yonghwa membantunya mengikatkan tali belakangnya. Setelah mengusir Yonghwa dari dapurnya yang terasa tiba-tiba menjadi sempit dengan keberadaan mereka berdua di sana, Seohyun memaksa Yonghwa untuk duduk manis di meja makan.
“ Setidaknya biarkan aku membantumu “, protes Yonghwa tapi Seohyun tak menanggapinya.
Sebentar saja Seohyun sudah sibuk, mulai dari memotong-motong daging ayam, memotong jamur dan wortel, bawang bombay. Menjerang air untuk memasak spagettinya, memasukkan minyak ke dalam air serta sedikit garam.
Di dengarnya Yonghwa mengetuk-ngetuk meja dapur seperti sedang bermain drum. Mungkin dia mulai bosan hanya duduk saja tak tahu harus berbuat apa. Seohyun lalu mengangkat mangkok yang berisi ttubokki buatan Yonghwa dan membawanya ke meja malam, kembali untuk mengambil piring kecil dan sumpit lalu meletakkannya di depan Yonghwa.
“ Kalau bosan, kau makan saja ttubokkinya “, Yonghwa menggeleng.
“ I want spagetti, I want spagetti, I want spagetti “, teriaknya sambil kembali mengetuk-ngetuk meja.
“ Ingatkan aku kalau kau ini berumur tiga puluh tahun bukan anak kecil berusia tiga tahun “, ucap Seohyun dan langsung mendapat tatapan sebel dari Yonghwa.
Tiga puluh menit kemudian creamy spagetti tersedia di depan Yonghwa. Seohyun melepaskan celemeknya. Melipatnya dan meletakkannya di meja konter. Mengambil piring dari lemari mengaturnya di tas meja makan saat Yonghwa bergerak berdiri dan berjalan menuju lemari es dan mengeluarkan air mineral dan Kimchi yang di berikan Ibu Seohyun lalu membawanya ke meja dapur dan kembali duduk dengan manis saat Seohyun menatapnya tajam.
“ Setidaknya aku bisa membantu, tidak akan membunuhku kan ? “. Seohyun hanya diam dan menarik kursi tepat di depan Yonghwa.
“ Lebih baik kita makan setelah itu kau bisa minum obat dan beristrahat “.

♥ ♥ ♥

“ Kau belum membuka amplopnya ? “ tanya Seohyun ketika mereka sudah naik ke lantai atas dan Seohyun melihat amplop besar kiriman untuk Yonghwa masih tergeletak di meja depan sofa.
“ Kan aku bilang tadi setelah kau pergi aku langsung tertidur dan saat bangun aku merasa lapar makanya aku turun membuat ttubokki tadi jadi aku belum sempat mengecek apa isinya “, jawab Yonghwa sambil menjatuhkan tubuhnya ke sofa.
Seohyun masuk ke dalam kamar untuk mengambil baju ganti lalu berjalan ke kamar mandi. Meninggalkan Yonghwa yang sedang meraih amplop besar tersebut. Perlahan Yonghwa merobek tepi amplop tersebut dan mengintip isinya. Di dalam amplop tersebut masih ada map plastik yang sepertinya berisi beberapa dokumen. Penasaran Yonghwa menarik map plastik tersebut dan mengeluarkan isinya.
Selembar kertas jatuh dari dalam map. Surat Pernikahan dirinya dan Seohyun. Buru-buru Yonghwa memungutnya. Di dalam map ada pula selembar photo pernikahan mereka seukuran map tersebut.
Yonghwa tahu ibunya lah yang mengirimkan ini semua. Yonghwa buru-buru memasukkan semuanya kembali ke dalam map lalu memasukkan ke dalam amplop. Untuk satu alasan tertentu Yonghwa tak ingin Seohyun mengetahui isinya.
Itu karena kau tak ingin membatalkan pernikahan kalian bukan ?
Well, dia mencintai Seohyun dan saat Seohyun melihat surat pernikahan mereka maka Seohyun akan kembali mengungkit masalah pembatalan pernikahan mereka. Seohyun mungkin tak mencintainya, tapi Yonghwa masih berharap apa yang di katakan Jonghyun dan Ibu Seohyun waktu itu adalah benar.
Tapi Yonghwa tahu, Seohyun tetap menginginkan kehidupannya sebelum bertemu dengannya. Mandiri tanpa komitmen. Dan apa yang di lihatnya di dalam map tersebut adalah kunci bagi Seohyun terlepas dari dirinya.
Andwei !
Tidak boleh !
Tidak bisa di biarkan. Lagi pula apa maksud Ibunya mengirimkan ini semua kepadanya saat ini. Apakah Ibu Seohyun bercerita bahwa Yonghwa telah jatuh cinta pada Seohyun dan menyadari bahwa tak ada gunanya lagi dia menyimpan surat pernikahan mereka ?
Tapi saatnya tidak tepat, sangat tidak tepat.
Yonghwa kembali mengeluarkan map plastik tersebut sambil berdiri dan berjalan ke kamar, mengeluarkan photo pernikahan mereka dan memasukkan ke dalam amplop sementara map plastik tersebut di masukkannya ke dalam tas pakaiannya.
Setidaknya saat Seohyun merasa penasaran apa isinya yang dia dapatkan hanya photo pernikahan mereka.
Good, Yonghwa memuji dirinya lalu membawa amplop besar tersebut kembali ke meja dan dia kembali duduk di sofa, tepat saat Seohyun membuka pintu kamar mandi. Yonghwa menghela napas lega.
Seohyun terlihat segar setelah mandi. Rambutnya di gulung keatas dan di jepit dengan jepitan besar. Mengenakan kemeja longgar berbahan flanel yang hangat dan celana jeans dengan handuk yang tersampir di bahunya.
“ Kau tidak ingin mandi ? Setidaknya membersihkan badan ? “, tanya Seohyun. Yonghwa menggeleng. Seohyun kemudian mengeringkan handuk di bahunya ke jemuran kecil yang di letakkan di depan kamar mandi.
“ Saljunya masih turun “, kata Yonghwa sambil menatap keluar jendela.
“ Sepertinya masih akan turun hingga besok pagi “, komentar Seohyun menanggapi perkataan Yonghwa.  “ Mau aku buatkan teh hangat ? “, tawarnya.
“ Apakah merepotkan ? “, tanya Yonghwa balik.
“ Tentu saja tidak, kebetulan aku juga mau ”.
Saat Seohyun turun ke bawah, Yonghwa berpikir, bagaimana mereka akan melewatkan malam ini. Rumah ini walaupun memiliki dua kamar tapi hanya satu yang di fungsikan sebagai kamar tidur sementara satunya di jadikan ruang kerja dan perpustakaan mini Seohyun. Yonghwa tidak akan keberatan tidur di sofa, tapi dia sejuta persen yakin Seohyun tidak akan mengizinkannya tidur di sofa dan dia juga tak ingin Seohyun tidur di sofa setelah kemarin malam tertidur dengan posisi duduk.
Berbagi ranjang ?
Terlalu menggoda tapi memang itulah solusi mereka. Berbagi ranjang. Lagi pula ranjang Seohyun cukup besar untuk mereka berdua, apa yang harus mereka takutnya. Mereka sudah menikah – setidaknya itu yang dia percayai – mereka dua manusia dewasa, Yonghwa yakin mereka berdua akan bisa mengendalikan diri mereka sendiri, iya kan ?
Tapi bagaimana rasanya tidur sambil memeluk tubuh Seohyun ?
Eishh byuntae, byuntae !!
Yonghwa memukul kepalanya mengusir pikiran kotor yang mengusik kepalanya tepat saat Seohyun naik dengan membawa dua mug berisi teh hangat. Dan melihatnya memukul kepalanya Seohyun menjadi khawatir, buru-buru di letakkannya kedua mug berisi teh ke meja.
“ Apakah pusingnya sangat terasa ? “, tanya Seohyun sambil duduk di samping Yonghwa dan meletakan tangannya ke kening Yonghwa dan merasa lega saat mengetahui suhu tubuh Yonghwa normal-normal saja.
Yonghwa memegang tangan Seohyun yang di letakkan di keningnya dan tetap memegangnya saat membawanya ke dalam genggaman tangannya.
“ Aku tidak apa-apa Seohyun, tak perlu khawatir “, ucap Yonghwa menenangkan.
“ Sebaiknya kau minum obat dan tidur “, ucap Seohyun masih dengan suara cemas. Tapi Yonghwa menggelengkan kepalanya dan berusaha menunjukkan kalau dirinya tak apa-apa.
“ Tidur siangku terlalu lama, dan sekarang aku tidak mengantuk “, kata Yonghwa sambil melepaskan genggaman tangannya dan meraih mug berisi teh hangat buatan Seohyun. Dan menghirupnya berusaha meredam rasa hangat yang menjalar memenuhi semua titik di dalam tubuhnya.
Seohyun meraih remote dan menyalakan TV tepat saat itu sebuah adegan ciuman terpampang di layar besar di depan mereka membuat Yonghwa tersedak dan Seohyun buru-buru memindahkan chanelnya wajahnya merona.
Sialan, rutuk Yonghwa sambil terbatuk-batuk. Momentnya sangat salah. Sangat sangat sangat salah.  Tidak saat beberapa menit yang lalu dia membayangkan memeluk Seohyun di ranjang. Benar – benar bukan moment yang tepat.
“ Sepertinya besok akan ada badai salju “, Yonghwa berusaha mencari topik pembicaraan yang aman.
“ Aku dengar juga begitu “.
“ Semoga tidak begitu buruk “.
“ Ya “.
Yonghwa kembali menghirup tehnya, Seohyun melakukan hal yang sama. Atmosper ruangan terasa tegang. Satu kata yang salah bisa membuat ledakan yang maha dahsyat. Yonghwa mencoba sekali lagi mencari topik yang aman.
“ Seohyun, apakah kau bisa bermain kartu ? “, tanya Yonghwa. Bermain kartu tentu saja sesuatu yang aman. Iya kan ?
“ Bermain kartu ? “.
“ Iya “, Yonghwa menghirup lagi tehnya.
“ Tapi kita tidak punya kartu untuk di mainkan “.
“ Catur ? “. Seohyun menggeleng.
“ Monopoli ? . Seohyun kembali menggeleng.
“ Ular tangga ? “. Seohyun tersenyum tapi kembali menggeleng.
So, di sinilah mereka berdua, tak tahu harus berbuat apa. Yonghwa menggaruk-garuk rambutnya yang sama sekali tidak gatal .
“ Bagaimana kalau kita bermain suit ? “, usul Seohyun.
“ Suit ? Suit Jepang ? “.
Seohyun mengangguk. “ Tapi yang kalah harus mendapat hukuman “.
“ Dan apa hukumannya ? “.
“ Tergantung apa yang akan kita inginkan sebagai hukuman “.
“ Membuat kalimat dengan menggunakan bahasa Inggris minimal lima kata dan bila kalimatnya kurang dari lima kata maka keningnya akan kena jentikan jari. Bagaimana ? “, usul seohyun setelah berpikir sesaat.
“ Siapa takut “, kata Yonghwa sambil meletakkan gelas yang sedari tadi di pegangnya. Lalu mengubah posisi duduknya dengan menaikkan kakinya ke atas sofa lalu duduk bersila. Seohyun pun meletakkan gelasnya dan memposisikan dirinya persis seperti Yonghwa sehingga mereka sekarang duduk berhadap-hadapan.
“ Kau akan kalah , Hyun “, ejek Yonghwa.
“ Kau tahu aku tak pernah kalah, Yong “.
“ Baiklah, ayo kita mulai “. Yonghwa lalu menepuk-nepukkan tangannya yang terkepal ke telapak tangannya yang terbuka Seohyun pun melakukan hal yang sama. “ batu, kertas gunting ! “. Sahut Yonghwa dan terdengar Seohyun berseru kegirangan.
“ Aku menang ! Yuhuu “.  Seohyun menggoyang-goyangkan jempolnya ke arah Yonghwa. “ Ayo buat kalimatnya “.
Yonghwa berpikir sejenak. Dia tahu akan sangat gampang membuat kalimat tersebut bahkan dalam sekali tarikan napas. Tapi Yonghwa berlagak sedang berpikir keras.
“ I can speak little litle in English “, jawab Yonghwa dengan aksen yang di buat-buat.
“ Ehh kalimat apa itu ? “, protes Seohyun.
“ Pokoknya kan bahasa Inggris dan terdiri dari lima kata “, tangkis Yonghwa.
“ I love to read a book “. Ucap Seohyun saat di putaran berikutnya Yonghwa yang menang.
“ Why you shy shy cat “. Kembali Seohyun protes tapi Yonghwa tetap bersikeras bahwa itu kalimat dalam bahasa Inggris.
Rasanya permainan mereka semakin seru, sementara Seohyun selalu mengeluarkan kalimat yang benar, Yonghwa malah membuat kalimat yang walaupun Seohyun protes tapi tetap membuat Seohyun tertawa karena merasa lucu.
“ You have to think cook cook “.
Dan kali ini Seohyun tak mampu lagi untuk protes. Tawanya membahana memenuhi ruangan di mana mereka berada.
“ Memangnya apa yang salah ? “ sahut Yonghwa sambil memasang ekspresi heran. Seohyun menggelengkan kepalanya sambil memegang perutnya yang terasa sakit karena tertawa. “ Kau harus berpikir masak-masak kalau di jadikan bahasa Inggris  itu kan  you have to think cook cook, memang salah ya ? “.
Yonghwa tak peduli apapun itu kalimat kacau yang di buatnya selama bisa membuat Seohyun tertawa sudah sangat membuatnya senang. Dan dia masih punya segudang kalimat lucu lainnya.
“  Dragon dragon snow will fall till morning “, Yonghwa terbelalak mendengar jawaban Seohyun yang kalah di putaran suit selanjutnya setelah terhenti karena tak bisa menahan tawanya.
“ Ehhh kalimat apa itu ? “.
“ Daripada aku bilang, Yong yong snow will fall till morning lagi pula kau kan yang memulainya “. Seohyun membalas protesan Yonghwa.
Dan kali ini Yonghwa yang tertawa terbahak-bahak hingga Seohyun harus memperingatkannya untuk berhenti atau kepalanya akan kembali pusing.
“ Permainan ini sudah mulai kacau dan tak terkendali “, kata Yonghwa.
“ Yah, sebaiknya kita hentikan. Waktunya kau meminum obat dan tidur “, kata Seohyun sambil berdiri masuk ke dalam kamar dan keluar membawa obat. “ Aku akan ambilkan air, tunggulah sebentar “.
Jam di dinding menunjukkan pukul sepuluh tiga puluh menit. Seohyun juga pastinya harus beristirahat karena dia seharian sibuk mengantar Yonghwa dan mengajar. Dia tentu lebih capek.
Sebentar saja Seohyun sudah datang dengan membawa air mineral dan sebuah gelas kosong. Di tuangkannya air tersebut ke dalam gelas lalu menyerahkannya kepada Yonghwa.

♥ ♥ ♥

Seohyun mengawasi Yonghwa meminum obatnya. Lalu dia masuk ke dalam kamar dan merapikan ranjangnya untuk Yonghwa. Malam ini dia akan tidur di sofa dan mungkin akan langsung tertidur karena sebenarnya diapun merasa sangat letih hari ini.
Setelah merapikan ranjangnya, Seohyun meraih satu bantal yang akan di pakainya di sofa saat Yonghwa masuk ke dalam kamar.
“ Mau di bawa kemana bantalnya ? “, tanya Yonghwa.
“ Aku akan tidur di sofa. Sekarang tidurlah, aku sudah merapikan ranjangnya untukmu “. Tapi Yonghwa menggeleng.
“ Aku saja yang tidur di sofa Seohyun “, katanya dengan nada bersalah.
“ Hei, aku sudah terbiasa tidur di sofa kok “, ucap Seohyun sambil mendekap bantal yang di pegangnya.
“ Ayolah, kau sudah sangat letih hari ini dan aku hanya tidur dan tak berbuat apa-apa. Tidurlah di ranjangmu, aku yang akan tidur di sofa “. Yonghwa bersikeras dan merebut bantal yang di dekap Seohyun. “ Atau aku terpaksa kembali ke apartemenku, karena aku tak mau kau tidur di sofa “, ancamnya.
“ Tapi kau kan sakit “, ucap Seohyun pelan, tak tahu lagi bagaimana harus memaksa Yonghwa untuk tidur di ranjangnya sementara dia tidur di sofa.
“ Kalau begitu kita akan berbagi ranjang “.
Seohyun yakin dia tidak salah dengar. Berbagi ranjang katanya ? Dia dan Yonghwa tidur di ranjang yang sama. Seohyun merasa mendapat mimpi buruk bahkan di saat dia belum tertidur sedikitpun.
“ Kau pasti bercanda ! “. Suara Seohyun terdengar bagaikan tercekik.
“ Tentu saja aku tidak bercanda “, kata Yonghwa serius. “ Ranjangmu cukup besar untuk kita berdua, kau tinggal memilih mau di bagian dalam atau di bagian luar dan untuk lebih amannya, kau bisa meletakkan guling di antara kita “. Sambil berkata Yonghwa melakukan seperti yang di ucapkannya. Dia meletakkan satu bantal guling tepat di tengah-tengah ranjang tersebut.
Tapi Seohyun tetap tidak yakin. Aman adalah dia tidur di sofa dan Yonghwa tidur di ranjangnya. Di luar itu alarm bahaya yang di milikinya mulai mengeluarkan suara yang bergema, meraung-raung di dalam kepalanya.
Ayolah Seohyun, apakah kau sedemikian pengecutnya ? kalian kan cuma seranjang tidak melakukan apa-apa. Ataulah kau berharap memang terjadi apa-apa ?
Seohyun kesal dengan pikirannya yang bahkan tidak menolongnya sama sekali. Apa-apaan sih sampai dia berpikir kalau dirinya berharap ada yang terjadi. Memangnya dia gila.
Tapi Yonghwa sama keras kepalanya dengan dirinya. Dan jika dia berkata bahwa dia akan pulang ke apartemennya sementara di luar salju mulai tebal dan jalanan pasti sangat licin dan Yonghwa belum fit untuk mengemudi maka dia akan melakukannya. Seohyun menarik napas panjang.
Apa boleh buat, selalu ada pertama kali untuk segalanya kan ?
“ Baiklah. Tapi aku akan lebih senang bila kau yang ada di bagian dalam “, akhirnya Seohyun mneyetujui dan Yonghwa tersenyum lebar. Lebih terlihat sedang nyengir karena senang akhirnya Seohyun menyerah dan mengikuti sarannya.
“ Aku akan kebawah memeriksa semuanya, tidurlah lebih dulu “, ucap Seohyun sambil berlalu. Diambilnya kedua mug yang tadi berisi teh hangat untuk mereka berdua, membawanya turun ke bawah lalu mencucinya dan berlama-lama di sana berharap saat dia naik ke atas Yonghwa sudah tertidur. Seohyun mengecek pintu sekali lagi, mematikan lampu dan menarik napas berkali-kali dan menghembuskannya sekeras mungkin saat kakinya menapaki anak tangga pertama.
Tak akan terjadi apapun, semuanya akan baik-baik saja, hanya pastikan kau tetap diam di tempatmu dan tidak memeluknya saat kau tak sadar, Seohyun mengingatkan dirinya berulang-ulang.
Yonghwa sudah berada diatas ranjang saat Seohyun masuk ke dalam kamar. Yonghwa bersandar pada bantal yang di taruhnya di belakang kepalanya. Diam-diam Seohyun menelan ludahnya. Semuanya akan baik-baik saja, ucapnya terus menerus dalam hati.
“ Apakah kau ingin lampunya di matikan ? “, tanya Seohyun pelan.
“ Kalau itu membuatmu nyaman, silakan saja ‘, jawab Yonghwa.
“ Kita nyalakan lampu tidur saja “, putus Seohyun sambil menyalakan lampu tidur yang menempel di dinding tepat diatas ranjangnya. Lalu berjalan mematikan lampu dan menutup pintunya. Suasana kamar-kamar menjadi sedikit remang-remang hanya di terangi cahaya lampu tidur yang kecil.
Seohyun perlahan naik ke ranjang dan merebahkan tubuhnya memunggungi Yonghwa lalu menarik selimut menutupi tubuhnya hingga ke leher. Di dengarnya gemerisik selimut dari arah belakang dan merasakan gerakan Yonghwa yang mengatur bantalnya.
“ Selamat malam Seohyun “, bisik Yonghwa.
“ Selamat malam Yonghwa “.
Seohyun yakin, malam ini akan menjadi malam yang sangat panjang.

♥ ♥ ♥

Yonghwa belum juga bisa memejamkan matanya. Dia mendengar napas yang teratur keluar dari mulut Seohyun. Apakah Seohyun sudah tidur ?
Berada seranjang dengan wanita yang di cintainya tapi tak bisa memeluknya adalah siksaan yang sangat berat melebihi rasa pusing yang di deritanya. Yonghwa tidak tahu bagaimana harus menahan hasratnya untuk tidak menyentuh Seohyun. Demi Tuhan, apa yang harus di lakukannya ?
Yonghwa mengerang lalu meletakkan kedua tangannya di belakang kepalanya, pandangannya nanap menatap langit-langit kamar Seohyun.  Pikirannya kembali ke masa dimana mereka pertama kali bertemu. Seohyun yang angkuh tak meminta maaf karena telah membuat bemper belakang mobilnya rinsek hingga membuatnya merasa jengkel. Memilihnya dari tiga orang kandidat saat game dating dan membuat Seohyun marah sehingga mereka bertengkar di belakang panggung dan berakhir dengan pernikahan bohongan  yang benar-benar terjadi.
Saat itu dia yakin seyakin-yakinnya, dia tidak akan pernah jatuh cinta pada nenek sihir tersebut. Tapi apa yang terjadi ?
Seohyun perlahan-lahan menyusup masuk ke dalam hatinya yang disangkanya telah tertutup karena pengkhianatan Yoo Ra. Mencuri tidurnya yang nyenyak, membuyarkan konsentrasinya terhadap perkara yang sedang di tanganinya, membuatnya merasa uring-uringan karena Seohyun menghindarinya selama seminggu tanpa sebab dan yang paling parah membuatnya jatuh cinta.
Ottoke ?
Seohyun memang sudah menaklukkannya. Yonghwa mengakui kebenaran tersebut. Hatinya jatuh ke tangan seorang wanita yang begitu mencintai kemandiriannya, penganut faham feminisme dan menganggap semua laki-laki adalah bejat kecuali ayahnya.
Bagaimana membuat Seohyun jatuh cinta kepadanya ?
Jonghyun bilang Seohyun tidak akan menghindarinya bila dia tidak merasa terancam dengan kehadiran Yonghwa. Apakah benar Seohyun merasa kemandiriannya untuk tidak berkomitmen telah terancam oleh dirinya ?
Hal yang sama juga di katakan oleh Ibu Seohyun hari itu. Apakah Yonghwa bisa berharap nona mandiri yang sedang terlelap di sampingnya benar-benar juga telah jatuh cinta padanya ? Ya Tuhan, andai saja  Yonghwa bisa mempercayai hal tersebut.
Tiba-tiba di rasakannya Seohyun bergerak dan membalikkan badan sehingga menghadap ke arahnya. Yonghwa kemudian memiringkan badannya hingga bisa menatap wajah damai Seohyun yang sedang tertidur. Dia pasti sangat letih hingga langsung terlelap.
Di pandanginya wajah Seohyun puas-puas. Siluet cahaya lampu membuat wajah Seohyun bersinar di keremangan kamar. Begitu tenang dalam tidurnya.  Apakah dia sedang bermimpi. Apakah aku ada di mimpinya ?
“ Seojuhyun, katakan padaku bagaimana membuatmu mencintaiku ? “, bisik Yonghwa pelan sambil merapikan beberapa helai rambut yang terjatuh dan menutupi wajah Seohyun. “ Tidakkah kau tahu aku sangat mencintaimu ? “, bisiknya lagi. “ Dan itu sangat menyiksaku “.
Seohyun bergerak tapi tidak membalikkan badannya hanya bergerak kemudian terdiam. Sejenak Yonghwa merasa jantungnya akan melompat keluar, takut Seohyun akan mendengar apa yang di katakannya barusan.
Kembali Yonghwa memandangi wajah Seohyun memuaskan hasratnya dengan mengagumi tekstur wajah Seohyun yang sempurna. Tatapan mata Yonghwa terpaku di bibir Seohyun. Dia pernah merasakan bibir Seohyun. Saat pernikahan mereka dan saat dia begitu cemburu. Bagaimana rasanya mencium bibir tersebut dengan perasaan penuh cinta ? Yonghwa teramat sangat ingin merasakan hal tersebut.
Hentikanlah Yonghwa !
Tiba-tiba Seohyun membuka matanya dan mata mereka beradu.
“ Yonghwa ? “, bisiknya lalu kembali memejamkan matanya tapi kemudian membukanya kembali dan Yonghwa bisa melihat rasa khawatir di wajahnya. “ Apakah kepalamu terasa sakit ? “.
Yonghwa tersenyum dan menggelengkan kepalanya. “ Aku baik-baik saja “.
“ Kau belum tidur ? “.
“ Aku belum mengantuk, sepertinya hari ini aku sudah terlalu banyak tidur sehingga mataku belum bisa terpejam “, bisik Yonghwa. “ Tidurlah, kau pasti sangat lelah “.
Tapi bukannya kembali tertidur Seohyun malah menatapnya dalam-dalam. Dan Yonghwa berdoa, benar-benar berdoa supaya dia di beri kekuatan untuk tidak menyentuh Seohyun.
“ Sebenarnya apa permohonan yang kau minta malam itu ? “, tanya Seohyun pelan.
“ Apakah kau benar-benar ingin mengetahuinya ? “.
“ Tapi kalau kau tak mau mengatakannya, tidak apa-apa kok “.
“ Aku hanya meminta kedamaian untuk negara kita “, dan meminta dirimu lanjut Yonghwa dalam hati.
“ Terdengar sangat patriotik “.
Yonghwa meringis. “ Iya kah ? “, tanyanya dan di jawab dengan anggukan kepala Seohyun.
“ Bukankah kau seharus meminta untuk di beri kesehatan atau kesuksesan ? “.
Tanpa dirmu aku tak butuh kesuksesan, bisik Yonghwa dalam hati. Tapi Yonghwa hanya mengangkat satu bahunya. Tak ingin menanggapi perkataan Seohyun.
“ Yonghwa, apakah kau pernah jatuh cinta ? bagaimana rasanya ? “, tanya Seohyun dan membuat Yonghwa terkejut tak menyangka Seohyun akan bertanya hal tersebut kepadanya.
Apakah dia harus jujur ?
Yonghwa menghela napas dan diam sesaat. “ Sekali dalam hidupku, aku pernah mencintai seseorang dengan teramat sangat “. Mungkin lebih baik dia berkata jujur dan menceritakan apa yang pernah di alaminya kepada Seohyun sehingga tak ada lagi rahasia. Bukankah kita tidak seharusnya merahasiakan hal apapun dengan orang yang kita sayangi ?
“ Apa yang terjadi ? “.
“ Dia mengkhianatiku “, jawab Yonghwa pelan.
“ Apakah jatuh cinta bisa membuatmu merasa sakit ? “.
Yonghwa tersenyum. “ Jatuh cinta bisa membuatmu merasakan semuanya. Senang, bahagia, sedih, terluka “, jawab Yonghwa. “ Seperti membubuhkan bubuk cabe ke makananmu, walaupun kau tahu itu akan pedis tapi justru menambah kenikmatan saat kau memakannya “. Yonghwa mengambil pengibaratan yang sederhana.
“ Apakah juga bisa membunuhmu ? “. Ada kemuraman yang sekilas membayang di wajah Seohyun. Yonghwa teringat cerita Ibu Seohyun.
“ Cinta tidak menyakiti tapi orang selalu menyalahkan cinta saat hatinya terluka “, jawab Yonghwa dengan hati-hati. “ Manusialah yang membuat kita terluka bukan cinta itu sendiri, sayangnya kita terkadang sembunyi di balik kata cinta “.
“ Apakah pengkhianatan itu yang membuatmu tidak ingin menikah atau berkomitmen ? ‘.
“ Tadinya aku mengira seperti itu. Tapi sekarang tidak lagi. Mungkin memang kami tidak berjodoh. Dengan menahannya berati aku terlalu egois dan tidak membuatnya bahagia. Melepaskannya pergi adalah pilihan terbaik walaupun sakit “.
Seohyun tiba-tiba mengulurkan tangannya dan menyentuh wajah Yonghwa dan Yonghwa merasa hasrat yang sedari tadi berusaha di padamkannya kembali meyala. Sialan Seohyun kau tidak tahu apa yang sedang kau lakukan.
Yonghwa memegang tangan Seohyun yang sedang menyentuh wajahnya. Lalu membawa tangan tersebut ke bibirnya dan mengecupnya. Seohyun perlahan menarik tangannya, pipinya merona. Yonghwa gantian menyentuh pipi Seohyun dan menepis beberapa helai rambut yang menutupi wajahnya.
Tatapan mata Yonghwa tertuju ke bibir Seohyun yang sedikit membuka dan Yonghwa mengelus bibir Seohyun dengan ibu jarinya. Yonghwa bisa merasakan keterkejutan di mata Seohyun tapi hanya sesaat berganti binar yang menggoda.
“ Aku sangat ingin menciummu saat ini Seohyun “, bisik Yonghwa dengan suara yang parau karena hasratnya yang benar-benar sudah pada batas pertahanannya. Dan sambil mengatakan apa yang di pikirannya yang sedari tadi mengganggu kepalanya Yonghwa memajukan wajahnya dan menyentuh bibir Seohyun dengan bibirnya dan menciumnya dengan lembut.

♥ ♥ ♥

 Seohyun terpekik kecil saat bibir Yonghwa mencium bibirnya dengan teramat sangat lembut. Seohyun tidak tahu apakah dia harus menghentikannya atau menikmatinya. Pikirannya tak lagi seirama dengan hatinya.
Seohyun sadar bahwa situasi ini sangat berbahaya. Tapi satu sisi dari dirinya ingin lebih mengetahui sejauh apa bahaya yang bisa di timbulkan oleh sebuah ciuman.
Seohyun kau sedang bermain api...
Yonghwa menciumnya semakin dalam dan Seohyun merasa tubuhnya melayang. Dia menginginkan Yonghwa terus menciumnya dan tak berhenti. Seohyun memejamkan matanya dan tangannya menyentuh dada Yonghwa merasakan jantung Yonghwa yang berdebar kencang. Apakah Yonghwa juga merasakan apa yang dia rasakan.
Seohyun merasa seluruh tubuhnya meleleh bagaikan mentega yang sedang di panaskan di atas api yang panas membara. Tanpa sadar Seohyun memeluk leher Yonghwa dan menariknya semakin dekat dan meminta lebih. Apa yang terjadi dengan dirinya ?
Berhentilah Seohyun, bisik hatinya tapi Seohyun tak bisa berpikir. Dia sedang merasakan keindahan yang teramat sangat bagaikan sedang berada di taman yang penuh dengan bunga aneka warna yang harum semerbak dengan kupu-kupu yang beterbangan di sekelilingnya.
“ Seohyun “, desis Yonghwa diantara ciumannya yang semakin panas.
Seohyun membuka matanya dan pandangannya bertemu dengan pandangan Yonghwa yang penuh hasrat. Di rasakannya Yonghwa memegang pinggangnya dan menariknya mendekat ke tubuhnya. Hawa panas menjalari sekujur tubuh Seohyun. Perasaaan yang asing tapi menyenangkan. Salahkah bila dia ingin menikmatinya ?
“ Seohyun “, desis Yonghwa lirih. “ Katakan sesuatu “.
“ Apa yang harus aku katakan ? “, guman Seohyun.
“ Hentikan aku sekarang juga “.
“ Mengapa harus berhenti ? “, guman Seohyun tak rela jika ciuman Yonghwa berakhir.
“ Karena aku sangat menginginkanmu  dan demi Tuhan, aku tak bisa menghentikannya “, erang Yonghwa dan semakin dalam menjelajahkan lidahnya ke dalam mulut Seohyun.
Seohyun tak tahu apa yang harus di lakukannya. Saat ini dia tidak bisa memikirkan apapun. Ini adalah hal baru baginya dan rasanya begitu sempurna.
Secara alami Seohyun meraba dada Yonghwa kemudian turun ke perutnya dan Yonghwa mengerang nikmat, Yonghwa memegang tangan Seohyun dan menarik kaos yang di pakainya dan memasukkan tangan Seohyun sehingga dia bisa menyentuh tubuhnya tanpa halangan.
Yonghwa melakukan hal yang sama, memasukkan tangannya dan mulai meraba punggung Seohyun dan Seohyun merasa sangat nikmat. Napasnya memburu. Perlahan Seohyun merasa Yonghwa menyentuh tali branya dan mengikuti lajur branya dan sekarang tangannya perlahan menyentuh payudara Seohyun yang sudah menegang. Menangkupkan tangannya di payudara Seohyun kemudian memainkan putingnya.
Seohyun merasakan tubuhnya bergetar karena sentuhan tersebut. Tubuhnya mengeliat meminta lebih dan lebih hingga dia merasa dia bisa menangis karena tak kuasa menahan rasa nikmat yang di timbulkan sentuhan Yonghwa.
Yonghwa melepaskan ciumannya dan Seohyun mengerang protes tapi Yonghwa menangkannya. Yonghwa bergerak dan menelentangkan tubuh Seohyun, membuka kancing kemeja flanelnya hingga bisa melihat keindahan sepasang payudara Seohyun yang padat dan indah.
“ Apakah kau ingin aku berhenti ? “, guman Yonghwa sambil menatap Seohyun.
Seohyun tahu seharusnya dia menganggukkan kepalanya tapi dia justru menggelengkan kepalanya dan Yonghwa kemudian mencium puncak payudara Seohyun, mengisapnya perlahan sehingga membuat Seohyun tak bisa menahan dirinya untuk tidak meneriakkan nama Yonghwa. Kedua tangannya meremas rambut Yonghwa, meminta tanpa suara agar Yonghwa lebih dalam mencium payudaranya.
“ Seohyun kau sangat indah “, guman Yonghwa sambil mengecup payudara Seohyun secara bergantian. “ Izinkan aku membuatmu merasa menjadi wanita sejati “, guman Yonghwa dengan hasrat yang hampir meledak..
Semuanya begitu indah, mereka berdua tenggelam dalam hasrat. Menjelajah tiap jengkal tubuh mereka yang sensitif, berulang kali merasakan getaran yang maha dahsyat seakan terbang ke langit dan tiba-tiba jatuh bagaikan rollercoster yang melaju dengan kecepatan yang bisa membuat siapapun histeris.
Dan saat tiba dimana mereka berdua tak lagi bisa hanya sekedar bercumbu. Mereka berdua terbang ke langit tertinggi dan merasakan kenikmatan yang tak tertandingi oleh apapun.
Yonghwa merasakan napasnya memburu. Di tatapnya wajah Seohyun yang seakan takjub dengan apa yang baru mereka temukan bersama. Yonghwa menjatuhkan tubuhnya ke samping Seohyun dan terlentang dengan perasaan yang sangat primitif. Perasaan memiliki Seohyun seutuhnya.
Yonghwa membalikkan Seohyun menghadap kepadanya. Rona wajah Seohyun memerah dan Yonghwa sangat menyukainya. Di kecupnya sekali lagi bibir Seohyun dan mengibaskan rambutnya yang berantakan di wajahnya.
Dia dan Seohyun adalah paduan kesempurnaan.
Di peluknya tubuh Seohyun yang basah oleh keringat menarik selimut menutupi tubuh mereka.
“ Apakah terasa sakit ? “, bisik Yonghwa di telinga Seohyun. Seohyun menggeleng pelan. Yonghwa semakin mengeratkan pelukannya dan mengecup ujung rambut Seohyun merasakan keharuman rambut Seohyun.
Seohyun menguap perasaan kantuk menderanya. Seohyun kemudian memejamkan matanya dan jatuh terlelap dalam pelukan Yonghwa.
“ Aku mencintaimu Seohyun “, bisik Yonghwa. “ Aku akan membuat pernikahan kita sempurna hingga kita tua bersama. Aku akan menyayangimu seperti aku mencintai diriku sendiri, menjagamu dan berusaha keras untuk tidak menyakitimu “.
Tidak lama Yonghwa merasa matanya semakin berat. Dia menarik Seohyun lebih dalam ke pelukannya dan memejamkan matanya.
Terima kasih, Tuhan, bisik Yonghwa sebelum akhirnya tertidur dengan senyuman di wajahnya.


♥ ♥ ♥ ♥ ♥ ♥ ♥













Previous
Next Post »

3 komentar

Write komentar
MARWA
AUTHOR
25 November 2016 pukul 12.21 delete

makin seru ceritanya dan makin penasaran sama chapter selanjutnya , kak zee

Reply
avatar
Unknown
AUTHOR
25 November 2016 pukul 14.14 delete

bentar lagi juga tamat ini cerita hehehe

Reply
avatar
Unknown
AUTHOR
25 November 2016 pukul 19.58 delete

Aaaaaa...kak zee bkim aku bahagia dgn ff ini,,semoga bersamaan mereka mlm itu nantix akan menjadi nyata,, kak zee jgn tamatin dulu,,,paling tidak sampai ada yongseo junior dong kak zee,,

Reply
avatar

Plis, masukan dan saran kami harapkan dari anda. Silakan komentar EmoticonEmoticon

Nothing But Yongseo ♥

Nothing But Yongseo ♥