CHAPTER TWENTY THREE
Seohyun memaksa membawa Yonghwa ke rumah sakit. Setelah menyiapkan sarapan
berupa chicken stew dan bubur , Seohyun bersikeras bahwa Yonghwa harus di
periksa oleh seorang dokter. Walaupun Yonghwa terus menerus menolak, tetapi
Seohyun dengan keras kepalanya tetap memaksa. Dan Yonghwa tahu lebih baik dia
mengalah.
Dan disinilah mereka sekarang di sebuah ruang tunggu rumah sakit Seoul
menunggu giliran untuk bertemu dokter. Yonghwa merasa tidak nyaman, dia tidak
menyukai berada di rumah sakit apalagi bila dirinyalah yang akan di periksa.
Yonghwa merasa setiap kali dia ke rumah sakit, maka dia sedang menderita
penyakit yang sangat berat dan sebentar lagi dia akan mati.
Kenyataannya dia sekarang disini hanya karena sakit kepala ringan yang di
deritanya akibat terbentur sesuatu di dalam danau.
Yonghwa melirik kearah Seohyun yang sedang membaca brosur dengan serius.
Hari ini Seohyun mengenakan sweater turtle neck berwarna merah maroon dan
bawahannya celana bahan kain ketat menutupi kakinya yang jenjang. Riasan
wajahnya yang tipis membuat Seohyun terlihat menawan. Sayangnya Yonghwa
terlanjur kesal karena dia memaksanya ke rumah sakit.
Memangnya dia pikir dia istriku ?
Memang dia istrimu, ejek hatinya dan Yonghwa tak bisa protes. Setelah apa
yang di lakukan Seohyun semalam hingga detik ini membuat Yonghwa merasa dirinya
benar-benar sedang di rawat oleh istrinya.
Apakah semua istri itu selalu keras kepala dan tidak mau di bantah ?
Yonghwa mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruang tunggu, ada sepasang
kakek nenek yang sedang menunggu giliran mereka duduk di pojokan. Si kakek
kelihatannya sedang menderita batuk karena beberapa kali di lihatnya kakek
tersebut batuk dan membuat wajahnya memerah dan si nenek dengan sabarnya selalu
mengeluarkan sapu tangan untuk mengelap mulut dan keringat si kakek.
Ada pula seorang ibu yang sedang menemani putranya yang sedang asyik
bermain kapal-kapalan sementara si ibu sedang terpaku pada layar ponsel yang di
pegangnya. Dan seorang pria sekitar empat puluhan sedang menatap Seohyun tanpa
berkedip dan Yonghwa rasanya ingin mentolok kedua matanya.
“ Apakah kau selalu mengamati setiap tempat yang kau datangi ? “, tanya
Seohyun pelan.
“ Hanya saat aku merasa bosan “, jawab Yonghwa dengan nada datar.
Seohyun tersenyum. “ Apakah aku harus membelikanmu es krim agar kau mau di
periksa dokter ? “.
“ Aku bukan anak kecil “, jawab Yonghwa sedikit masih dengan nada kesal.
“ Tapi tingkahmu seperti anak kecil “. Seohyun tertawa kecil sambil
menggeleng-gelengkan kepalanya. “ Baiklah setelah pemeriksaan aku akan membelikanmu
es krim dengan tiga rasa berbeda, asal kau janji akan bertingkah baik “, kata
Seohyun dengan senyum yang dibuat semanis mungkin sambil menepuk –nepuk lengan
Yonghwa seperti seorang Ibu yang sedang membujuk anaknya.
“ Aku benci rumah sakit lagi pula aku kan cuma sedikit pusing “.
“ Tapi kau tetap harus di periksa “.
Kesal Yonghwa menghentakkan kakinya lalu menangkupkan wajahnya dengan kedua
tangannya yang di tumpukannya di kedua pahanya.
“ Ehhh tingkahmu seperti anak berumur tiga tahun yang tidak di beri permen.
Ingat umurmu sudah tiga puluh tahun “.
Yonghwa mendelik sementara Seohyun berusaha keras untuk menahan tawanya.
Rasanya senang membalikkan kata-kata yang sering di lontarkan Yonghwa untuknya.
Yonghwa seharusnya tahu kapan sebaiknya dia menyerah atau Seohyun akan
membalasnya dengan melontarkan semua kata-kata yang pernah di lontaraknnya
untuk mengejek Seohyun.
♥ ♥ ♥
Salju turun saat mereka meninggalkan rumah sakit. Kata dokter Yonghwa hanya
mengalami sedikit shock akibat benturan dan di sarankan untuk istrahat sehari
ini. Dan Seohyun memutuskan secara sepihak bahwa Yonghwa sebaiknya tetap berada
di rumahnya hingga keadaannya benar-benar stabil. Dan dengan senang hati
Yonghwa tidak protes sedikitpun.
Yonghwa menatap keluar jendela sementara Seohyun fokus mengemudikan mobil
Yonghwa. Salju yang turun menyebabkan jalanan sedikit licin dan Seohyun memilih
untuk berkendara dengan kecepatan yang rata-rata.
“ Apakah kau selalu menyetir selambat ini ? “, tegur Yonghwa sambil
memalingkan kepalanya ke arah Seohyun. “ Apakah kau tahu mobil ini di ciptakan
untuk di kendarai dengan kecepatan diatas rata-rata. Kau membuatnya merana
dengan kecepatanmu ini “.
“ Itu karena aku sedang membawa orang yang sedang sakit “, timpal Seohyun
tetap fokus ke jalan.
“ Lucu sekali Seojuhyun, lucu sekali “.
“ Salju membuat jalanan licin dan aku tidak mau menyebabkan pengguna jalan
raya lainnya mengalami kecelakaan gara-gara aku menyetir seperti orang
kesetanan “.
Yonghwa memonyongkan bibirnya lalu menghembuskan napasnya sehingga bibirnya
mengeluarkan suara siulan yang sumbang.
“ Bisakah kita singgah sebentar di apartemenku ? “, tanya Yonghwa.
“ Buat apa ? “.
“ Well, kalau kau bersikeras aku tetap menginap di rumahmu, aku butuh baju
ganti “.
“ Kau bisa meminjam baju kaos dan beberapa rok milikku “.
“ Ha ha ha “.
“ Baiklah baiklah, kita singgah ke apartemenmu, silakan tunjukkan arahnya
padaku “, kata Seohyun setelah merasa cukup menggoda Yonghwa.
Yonghwa kemudian memasukkan alamat apartemennya ke layar GPS mobilnya, dia
terlalu malas untuk memberi arahan saat ini. Kesal bahwa Seohyun terus menrus
menggodanya. Bukankah seharus dia yang menggoda Seohyun seperti sebelumnya.
Yonghwa menyandarkan kepalanya dan mencoba menutup matanya. Sesekali
telinganya menangkap suara arah GPS yang menyuruh berbelok ke kiri lalu
beberapa saat kemudian kembali memberikan arahan ke kanan dan seterusnya.
Menjengkelkan tapi lebih baik dari pada dia yang harus berkata belok kiri dan
belok ke kanan seratus meter di depan.
Tersentak Yonghwa membuka matanya lalu meraih ponselnya. Menghubungi Sunny
di kantor dan memberitahu bahwa dia tidak bisa datang ke kantor dan beberapa
sidang yang seharusnya di hadirinya minta di gantikan oleh siapapun yang tidak
sibuk hari ini. Tapi kemudian Sunny mengatakan bahwa ada kiriman untuknya dari
Busan.
“ Setelah dari apartemen, kita singgah dulu ke kantorku “, ucap Yonghwa
sesaat setelah menutup percakapan di ponselnya.
“ Jung YongHwa ssi, apakah sekarang aku menjadi sopir pribadimu ? “.
“ Seojuhyun ssi, ada yang harus aku ambil di kantor. Jadi maukah kau
mengantarkanku ke kantor, please ? “. Yonghwa menekankan suaranya pada kata
please membuat Seohyun berpaling dan tersenyum geli.
“ Tentu Jung Yonghwa ssi, aku akan mengantar anda kemanapun yang anda
inginkan “.
Yonghwa mengerang lalu kembali menyandarkan kepalanya dan memejamkan
matanya. Terlalu berisiko membalas ejekan Seohyun, apalagi Seohyun sedang
berada di atas angin. Diam adalah emas. Jadi Yonghwa lebih baik diam seribu
bahasa, bila perlu dia harus menggigit lidahnya.
Sebuah tepukan halus di lengannya membangunkan Yonghwa. Mereka sudah berada
di depan apartemen Yonghwa. Sedikit meregangkan badannya Yonghwa membuka pintu
mobilnya dan menapakkan kakinya keluar dari mobil hal yang sama di lakukan oleh
Seohyun. Menunggu Yonghwa lalu berjalan bersama memasuki apartemen Yonghwa.
Sebelum membuka pintu, Yonghwa mencoba mengingat-ingat bagaimana keadaan
apartemennya kemarin malam saat terakhir di tinggalkannya. Mengingat betapa
cepatnya dirinya bersiap-siap malam itu, Yonghwa sanksi apartemennya terlihat
rapi.
Well, apa yang kau harapkan dari apartemen seorang
bujangan ? perabotan yang berkilauan ?
“ Duduklah, aku hanya akan sebentar “, kata Yonghwa saat mereka berdua
telah berada di dalam apartemen Yonghwa. Seohyun menganggukkan kepalanya sambil
mengamati sekelilingnya dia duduk di sofa kulit yang sangat nyaman berwarna
gelap.
“ Anggap saja rumah sendiri, kalau kau mau minum, ambillah sendiri “, sahut
Yonghwa sebelum hilang ke sebuah koridor kecil. Dia masuk ke dalam kamarnya,
benar saja kamarnya berantakan. Beberapa baju yang di keluarkannya kemarin dari
dalam lemari masih pasrah di atas kasurnya, handuk yang hanya tersampir di
sandaran kursi dan kaos kaki yang tercecer di lantai. Buru-buru Yonghwa
membereskan semuanya.
Sangat tidak lucu bila Seohyun tiba-tiba mengintip ke dalam kamarnya kan ?
Handuk dan kaos kaki kotornya di masukkannya ke dalam keranjang laundry,
baju-baju di masukkan kembali ke dalam lemari, walaupun tidak serapi yang
diinginkannya Yonghwa berpuas hati. Dia kemudian menarik sebuah tas kecil yang
biasa di pakainya saat dia pergi ke tempat fitness, memasukkan beberapa kaos
tebal yang hangat, celana jeans, beberapa pakaian dalam dan piyama. Kemudian
Yonghwa mengganti pakaiannya, jeans denim berwarna hitam dan kemeja berwarna
hitan dengan sweater tanpa lengan berwarna biru cerah. Setelah itu Yonghwa
melangkah keluar kamar dan masuk ke dalam kamar mandi yang tidak jauh beda
berantakannya dari kamar tidurnya.
Dengan gerakan kilat Yonghwa memasukkan sikat gigi, after shave dan cologne
serta alat cukurnya ke dalam tas kecil lalu memasukkannya ke dalam tas
fitnessnya. Lalu memungut celana dalam dan melemparkannya ke dalam keranjang
laundry kecil di sudut kamar mandi.
Saat kembali ke ruang tamu, Yonghwa tak menemukan Seohyun di sana. Dia
meletakkan tasnya kemudian berjalan ke arah balkom yang tampak terbuka. Seohyun
di sana sedang memandang pemandangan kota yang sedang bersalju. Apartemen
Yonghwa berada di lantai delapan dan pemadangan dari balkom cukup indah.
“ Apakah kau tidak kedinginan di luar sana ? “, tegur Yonghwa sambil
bersandar di pintu balkom. Seohyun berbalik dan mengamatinya. “ Maaf bila
membuatmu menunggu lama “.
Seohyun menggeleng. “ Pemadangan dari sini sangat indah “, komentarnya.
“ Itulah mengapa aku memilih apartemen ini. Aku juga jatuh cinta pada pemandangan
yang aku dapatkan dari balkom itu “, kata Yonghwa. “ Tapi sebaiknya kau masuk,
terlalu dingin di sini dan rasanya lucu kalau aku yang sakit ini harus
merawatmu karena masuk angin “.
Seohyun mendelik dan berjalan ke arah Yonghwa yang berada di pintu balkom
berusaha tidak menyentuhnya saat berjalan melewati Yonghwa dan kembali ke dalam
apartemen. Yonghwa tersenyum kecil melihatnya.
“ Apakah kau mau minum ? “, tawar Yonghwa.
“ Sebaiknya kita segera berangkat, aku takut salju akan semakin tebal
menutupi jalan. Kau tidak ingin kan aku
mengemudi si jagoanmu dengan kecepatan siputku bukan ? “.
Yonghwa tertawa lalu meraih tas yang di simpannya dekat sofa. “ Kalau
begitu ayo kita berangkat ! “.
♥ ♥ ♥
Seohyun merasa napasnya sesak saat melihat Yonghwa bersandar di pintu
balkom. Bila di suruh memilih, Seohyun lebih memilih Yonghwa yang basah kuyub dari
pada yang sekarang. Celana jeansnya begitu pas menutupi kakinya yang jenjang
terlihat jantan, kemeja hitam yang di padu dengan sweater model vest berwarna
biru. Yonghwa terlihat sangat – menawan. Sangat sulit untuk tidak menatapnya
dengan tatapan orang yang melihat makanan setelah beberapa hari tak makan.
Seohyun tahu dia sudah melakukan kesalahan besar saat menyarankan Yonghwa
tinggal bersamanya selama dia masih belum fit. Seohyun seharusnya tahu kapan
untuk menggigit lidahnya dan menahan dirinya untuk tidak mengatakan hal yang
akan di sesalinya. Sayangnya Yonghwa dengan senang hati menerimanya tanpa
protes sama sekali.
Padahal akan lebih baik kalau Seohyun menawarkan diri merawatnya di
apartemen Yonghwa, setidaknya dari yang dia curi lihat di apartemen Yonghwa ada
tiga kamar tidur sedangkan di rumahnya hanya ada satu kamar tidur. Akan tidur
di mana dirinya ?
Bisakah dia kembali ke detik-detik saat dia mengatakan
sebaiknya Yonghwa tinggal di rumahnya sampai fit ?
Tak ada jalan untuk berbalik. Apa boleh buat, Seohyun terpaksa rela tidur
di sofa, di rumahnya sendiri. Adakah yang lebih hebat dari itu.
Seohyun mendesah pelan membuat Yonghwa yang duduk di sebelahnya berpaling
menatapnya.
“ Kau pasti menyesalkan memintaku tinggal di rumahmu ? “, tebak Yonghwa
membuat Seohyun kembali berpikir bahwa Yonghwa bisa membaca pikirannya.
“ Huh ? “, guman Seohyun lalu menggeleng. “ Tentu tidak “, ucapnya terlalu
cepat.
“ Jadi mengapa kau mendesah seperti itu ? “.
“ Oh “, Seohyun berhenti sejenak mencari alasan dengan cepat. “ Aku ada
kelas sore hari ini dan itu artinya aku harus meninggalkanmu di rumah untuk
beberapa jam “, ucapnya dan merasa bangga dengan kemampuannya mengelak.
Yonghwa menganggukkan kepalanya. “ Aku kan cuma sakit ringan, jangan
terlalu di pikirkan. Aku hanya akan tidur hingga kau pulang “, Yonghwa
menenangkan sambil tersenyum penuh maklum.
Seohyun berfokus ke depan, tak ingin melihat senyum Yonghwa yang selalu
bisa membuatnya sesak napas.
“ Berbeloklah ke kiri di persimpangan di depan “, Yonghwa mengarahkan.
Seohyun mengangguk. “ Nah berbelok masuklah ke gedung perkantoran
di depan itu ‘, kata Yonghwa sambil menunjuk sebuah bangunan perkantoran yang
cukup elit di kawasan Gangnam. Seohyun mengikuti perkataan Yonghwa dan
memarkirkan mobilnya ke area parkir yang ada di depan bangunan tersebut.
“ Kau ikutlah ke dalam “, ajak Yonghwa.
Seohyun akan lebih memilih menunggu di dalam mobil. Seohyun menggelengkan
kepalanya. “ Kau saja yang masuk aku akan menunggu di sini “, tolaknya.
“ Bagaimana kalau aku tiba-tiba merasa pusing saat berada di dalam lift
sedangkan kantorku berada di lantai tiga puluh “, Yonghwa memasang mimik
memohon.
Tidak mau terpedaya Seohyun tahu Yonghwa sedang membuat alasan, Seohyun
kembali mengelengkan kepalanya. “ Kau kan bisa menelpon sekretarismu untuk
mengantarkannya di lobby, jadi kau tidak perlu harus naik ke lantai tiga puluh
“, kata Seohyun dengan senyum yang di buat semanis mungkin.
Terdengar desisan protes dari mulut Yonghwa. “ Tapi aku ingin ke kantorku
dulu “, protes Yonghwa.
“ Apa lagi yang kau tunggu, turunlah, jangan lupa rapatkan jaketmu “, kata
Seohyun sambil menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi.
“ Seohyun ahhh !!! “.
“ Yonghwa ahhh !!! “.
Yonghwa bersidekap. Seohyun tahu Yonghwa tidak akan menyerah. Pria di
sampingnya ini benar-benar sangat kekanakan. Tingkahnya tak beda dengan anak
sekolah yang ngambek gara-gara Ibunya tak mau menemaninya masuk ke dalam
sekolah.
“ Aku ingin kau berkenalan dengan semua rekan dan staf kantorku “, kata
Yonghwa.
“ Ahhh “, ucap Seohyun dengan mulut yang sengaja di bukanya lebar. “ Jadi
begitu masalahnya. Kalau begitu ayolah “, kata Seohyun lalu membuka pintu
mobil. Yonghwa menatapnya bengong.
Setelah sesaat mengagumi cara Seohyun menggodanya. Yonghwa turun dari mobil
dan masih menatap Seohyun dengan pandangan mata yang tak percaya sementara
keningnya berkerut.
“ Kau senang ya menggodaku ? “, teriak Yonghwa sambil berlari kecil bersama
Seohyun menghindari salju yang turun hingga mereka masuk ke dalam lobby gedung
perkantoran yang terlihat ramai.
Seohyun membersihkan jaketnya dari salju yang menempel, Yonghwa mendekatinya
dan menepis beberapa butiran salju yang menempel di rambut Seohyun. Merasakan
keintiman tersebut, Seohyun bergidik.
“ Dingin ? “, tanya Yonghwa. Seohyun menggelng cepat. Dia tidak ingin
Yonghwa mengetahui kalau perasaannya jadi berdebar-debar dan itu membuat
tubuhnya gemetar..
Yonghwa lalu menggenggam kedua tangan Seohyun lalu meniupnya beberapa kali.
“ Sudah merasa hangat ? “, tanyanya dan
Seohyun cuma bisa mengangguk menahan napas.
Bolehkah Yonghwa tidak melakukan hal tersebut terlebih lagi beberapa pasang
mata terlihat begitu berminat dengan pemandangan yang mereka sajikan ?
Tak melepaskan tangannya, Yonghwa melangkah ke arah lift. Melambaikan
tangannya beberapa kali pada beberapa orang yang menegurnya dengan senyum yang
terlihat terlalu lebar menurut Seohyun yang hanya tersenyum simpul berjalan
mengikuti Yonghwa.
Hingga mereka memasuki lift dan Yonghwa menekan tombol lantai kantornya,
Yonghwa tetap menggenggam tangan Seohyun.
“ Tidak bisakah kau melepaskan tanganku ? “, Seohyun berusaha melepaskan
tangannya tapi Yonghwa terlalu erat menggenggamnya.
“ Aku senang seperti ini, aku merasa aman dengan memegang tanganmu. Jadi
kalau aku pusing aku tidak takut terjatuh karena aku memegangmu “.
Alasan yang masuk akal. Yonghwa seorang pengacara, di kepalanya pasti ada
begitu banyak alasan yang masuk akal yang bisa di pikirkannya. Seohyun memutar
kedua bola matanya. Lift singgah di beberapa lantai dan beberapa orang masuk ke
dalam lift, diantara mereka ada yang menyapa Yonghwa dengan hormat sementara
beberapa lainnya hanya senyum-senyum melihat dirinya dan Yonghwa yang terus
berpegangan tangan. Seohyun merasa wajahnya memerah. Yonghwa sudah sangat
keterlaluan. Bila ini caranya membalas Seohyun yang terus menggodanya, dia
sudah sangat – sangat – berhasil.
Pintu lift terbuka di lantai tiga puluh. Yonghwa yang masih juga tak mau
melepaskan tangan Seohyun melangkah keluar lift dan langsung berjalan menuju
satu meja yang mana di situ duduk seorang wanita yang menatap mereka dengan
mata yang terbelalak. Yang lalu buru-buru berdiri dari kursinya dan menyambut
mereka berdua dengan senyum yang merekah di wajahnya.
“ Aku tidak tahu kalau kau akan datang dengan seseorang bos ? “, katanya
sambil mengedipkan matanya ke arah Yonghwa. Seohyun bisa melihat keakraban
mereka dari cara wanita tersebut menyapa mereka.
“ Seohyun kenalkan ini Sunny, sekretaris handal yang kami miliki tapi juga
sangat menjengkelkan “, kata Yonghwa sambil memperkenalkan wanita tersebut.
Jadi inilah Sunny, sekretaris Yonghwa yang mengataan dirinya sedang PMS ?
belum-belum Seohyun sudah merasa akan cocok dengannya.
“ Senang sekali akhirnya bisa bertemu anda Seohyun ssi “, ucap Sunny sambil
mengulurkan tangannya dan Seohyun menyambutnya. “ Anda lebih cantik dari photo
yang di koran “.
“ Tentu saja lebih cantik “, sahut Yonghwa menimpali lalu menarik Seohyun
berjalan ke ruangannya. “ Bawa kiriman tersebut ke ruanganku “, perintahnya.
“ Yonghwa, bisakah kau melepaskan tanganku, aku agak malu bila terus begini
“, bisik Seohyun protes.
“ Di kantor ini ada banyak pria mata keranjang yang tampan dan berpotensi
sebagai pembuat wanita patah hati, aku tidak mau kau tergoda dan mereka
menggodamu “, bisik Yonghwa. Seohyun mengguman sebel.
Apaan sih pria satu ini. Apa dia pikir dirinya akan mudah tertarik melihat
pria tampan dan mapan. Satu saja sudah cukup membuatnya repot apalagi banyak,
gerutu Seohyun dalam hati.
“ Yonghwa !! “. Seseorang meneriaki
Yonghwa dari arah ruangan yang terbuka. Lalu seraut wajah penuh kharisma keluar
dengan tergesa.
“ Wow, lihat siapa yang datang sambil menggandeng tangan seseorang hah ? “,
godanya. Yonghwa tertawa dan berhenti tepat di depan ruangan tersebut.
“ Karena kalian semua begitu berbahaya maka aku perlu melindunginya “,
balas Yonghwa bercanda. Seohyun merasa dirinya bakal menjadi bahan perbincangan
untuk beberapa hari ke depan di kantor ini bila tingkah Yonghwa terus seperti
ini.
“ Ya ampun, kami tidak sebuas itu “, protesnya sambil tertawa. “
Perkenalkan saya LeeTeuk, rekan Yonghwa “, katanya sambil mengulurkan tangannya
ke arah Seohyun dan Seohyun menyambut salam yang hangat tersebut.
“ Seohyun “, ucap Seohyun ramah sehingga Yonghwa menatapnya dengan tatapan
mata menyipit.
“ Jadi inilah wanita yang berhasil mengikat kaki tuan anti komitmen. Senang
berkenalan denganmu, Seohyun ssi “.
“ Senang berkenalan juga dengan anda “.
“ Ok cukup sudah perkenalannya. Aku terburu-buru “, potong Yonghwa tak
sabaran, lalu menarik Seohyun masuk ke dalam ruangannya sementara LeeTeuk
terdengar tertawa terbahak-bahak di belakang mereka.
♥ ♥ ♥
Yonghwa baru menyadari, bahwa seharusnya dia membiarkan saja Seohyun
menunggunya di dalam mobil. Yonghwa mengutuk kebodohannya. Yonghwa yakin,
selama beberapa hari ke depan dia bakalan menjadi bahan olok-olokan rekan dan
stafnya. Dan yang pasti mereka akan terus mengagumi kecantikan Seohyun. Gilanya
mengapa membayangkan para stafnya mengagumi Seohyun membuat Yonghwa cemburu.
“ Apakah kau akan terus memegang tanganku ? “, kali ini terdengar nada
marah di suara Seohyun. Dan Yonghwa segera melepaskan tangan Seohyun
Seohyun terlihat menggosok-gosok tangannya.
“ Aku cuma akan sebentar membereskan beberapa hal “, kata Yonghwa dan
mempersilahkan Seohyun duduk di salah satu kursi yang ada di ruangannya.
Yonghwa kemudian duduk di kursinya dan mulai meneliti beberapa berkas ketika
Seohyun mendekat dan menutup berkas yang sedang di bacanya.
“ Dokter bilang kau harus istrahat, dan kita datang ke sini karena akan
mengambil kiriman untukmu. Jadi sebaiknya ambil kirimannya dan kita pulang “,
kata Seohyun tegas sambil menatap Yonghwa sambil bersidekap. Sikapnya bagaikan
seorang ibu yang sedang mendapati anaknya sedang bermain video game padahal
seharusnya sedang belajar.
“ Kau bertingkah seolah-olah kau itu istriku “.
“ Bukannya aku memang istrimu ? “.
“ Apakah seorang istri harus secerewet dirimu ? “.
“ Entahlah ini pertama kalinya aku menjadi istri seseorang jadi mana aku tahu “, jawab Seohyun acuh dan
Yonghwa tertawa terbahak-bahak sambil bersandar ke sandaran kursi kerjanya.
“ Rasanya aku mulai senang dengan kehidupan beruma tangga “, ucap Yonghwa
setelah tawanya reda. “ Lebih menantang dari sidang yang paling menantang
sekalipun “.
Seohyun mendengus tapi tetap tidak merubah posisinya yang terlihat posesif.
Yonghwa berdiri lalu mendekatinya.
“ Apalagi bila ternyata istriku seperhatian ini “, bisiknya di telinga
Seohyun lalu berjalan menuju ke arah pintu membukanya dan meneriaki Sunny agar
segera membawa kiriman untuknya lalu kembali menutup pintu.
Yonghwa menarik tangan Seohyun dan mendudukkannya ke kursi yang ada di
depan meja kerjanya. Lalu Yonghwa
menguncinya dengan memegang kedua sandaran tangan kursi tersebut dengan kedua
tangannya. Yonghwa menundukkan kepalanya hingga mendekati wajah Seohyun.
Seohyun bergerak menjauhkan wajahnya dan memandang Yonghwa dengan pandangan
waspada.
Yonghwa tertawa sambil menyentuh puncak hidung Seohyun lalu berdiri dan
berjalan ke pintu bertepatan dengan bunyi ketukan. Yonghwa membuka pintu dan
Sunny masuk dengan membawa sebuah kiriman berbentuk amplop besar di tangannya.
“ Tak ada pengirim ? “, tanya Yonghwa. Sunny menggeleng sambil pamit
meninggalkan mereka. Yonghwa berkernyit menatap amplop besar seukuran map
tersebut dengan peringatan ‘ jangan di lipat ‘
di depannya.
Yonghwa mengapit amplop tersebut memutuskan akan membukanya saat tiba di
rumah Seohyun. Kembali menarik tangan Seohyun tapi Seohyun menepisnya.
“ Haruskah ? “, tanyanya.
“ Tentu saja harus “, jawab Yonghwa.
“ Atas alasan apa ? “.
“ Keamanan dan perlindungan “.
“ Kita sdang di kantormu bukan di hutan belantara “, Seohyun mengingatkan.
“ Di luar ruangan ini tidak ada Harimau atau Singa yang akan langsung menerkam
kita kan ? “.
“ Percayalah kau akan tahu bahwa kantorku bahkan lebih bahaya dari hutan
Amazon “.
“ Kau pasti bercanda “.
“ Iya sih “, kata Yonghwa sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. “ Tapi aku
suka memegang tanganmu, rasanya menyenangkan. Keberatan ? “.
Seohyun tak percaya Yonghwa bisa bersikap seperti ini. Tanpa berpikir
panjang Seohyun memegang tangan Yonghwa. “ Ayo kita pulang ! “.
“ Kau membuatku terkejut Seojuhyun “, aku Yonghwa saat dia merasa Seohyun
akan mengatakan rasa keberatannya tapi malah balik menggenggam tangannya. “ Kau
benar-benar membuatku terkejut “.
♥ ♥ ♥ ♥ ♥ ♥ ♥
Chapter Twenty Two Chapter Twenty Four
Plis, masukan dan saran kami harapkan dari anda. Silakan komentar EmoticonEmoticon