CHAPTER TWENTY TWO
“ Tidak lama kan ? “, tanya Yonghwa sambil duduk di samping Seohyun yang
tersentak kaget karena tidak menyadari kedatangan Yonghwa.
Yonghwa menyerahkan segelas kopi latte hangat kepada Seohyun sementara
Yonghwa sendiri langsung menikmati ice coffee favoritnya.
“ Ice Coffee ? “, heran Seohyun.
“ Hmm “, guman Yonghwa di sela-sela menghirup ice coffeenya. “ Memangnya
salah ? “, tanya Yonghwa kemudian.
Seohyun menggeleng acuh lalu menghirup minumannya. Tangannya memegang gelas
kopi tersebut hingga menimbulkan perasaan hangat di tangannya.
“ Oh ya, aku juga beli ini “, kata Yonghwa sambil menyerahkan kantong
kertas kecil berisi beberapa goguma rebus kepada Seohyun. “ Favoritmu “,
katanya dengan senyum mengambang di wajahnya.
Seohyun menggumankan terima kasih saat menerima kantong kecil tersebut.
Tapi mustahil menikmatinya saat kedua tangannya kotor karena tadi menepuk-nepuk
undakan sebelum duduk.
Yonghwa kembali tersenyum sambil mengeluarkan sekotak tissue membuat
Seohyun menatapnya kagum.
“ Jangan bilang kau juga tiba-tiba membeli tikar kecil untuk kita tempati
duduk sambil menikmati goguma ini “, ucap Seohyun sambil berpaling ke arah belakang
Yonghwa melihat jangan sampai dugaannya benar.
“ Sayangnya tak ada yang menjual dekat-dekat sini, tapi aku bisa membeli
tenda kalau kau mau “, kata Yonghwa dengan nada menggoda. “ Tadi aku melihat
ada yang menjualnya tak jauh dari sini “.
Seohyun menyesal telah bertanya hal
tersebut kepada Yonghwa. Menggelengkan kepalanya Seohyun kembali
memandang sekeliling mereka.
Sunyi, keduanya menikmati kopi dan goguma dengan diam. Rasanya damai, pikir
Yonghwa. Berdua Seohyun menikmati indahnya supermoon. Delapan belas tahun dari
sekarang mungkin saja mereka akan menikmatinya bersama Yonghwa kecil atau
bahkan Seohyun kecil. Yonghwa tersentak dengan pemikirannya sendiri dan itu
membuatnya tertawa sambil menggeleng-gelengkan kepalanya mengusir apa yang
sedang di pikirkannya.
“ Ada yang lucu ? “, tanya Seohyun.
“ Tidak “, jawab Yonghwa singkat sambil kembali menghirup ice coffeenya.
“ Kau seharusnya tidak meminum itu di cuaca dingin seperti ini “, tegur
Seohyun pelan.
“ Dalam semalam kau sudah dua kali menegurku “, Yonghwa mengingatkan. “
Tadi kau menegur karena aku melewatkan makan siangku dan sekarang kau menegurku
karena meminum ice coffee di cuaca dingin seperti ini. Wow Seojuhyun, kau
terdengar seperti seorang istri yang sedang memarahi suaminya “.
Senyum menggoda nampak jelas di wajah Yonghwa membuat Seohyun mengingatkan
dirinya untuk tidak lagi menegur kebiasaan apapun yang di miliki Yonghwa.
“ Tapi aku tidak keberatan di tegur olehmu “, kata Yonghwa sambil
menyenggol Seohyun dengan lembut. “ Aku malah suka “, katanya lagi sambil
mengedipkan matanya ke arah Seohyun.
Seohyun mendesah dalam hati.
Yonghwa bangkit meregangkan tubuhnya dan berjalan mendekati danau yang di
batasi oleh pagar besi setinggi pinggangnya. Dipungutnya sebuah batu kecil dan
melemparkannya ke danau membentuk riak – riak yang membuat pantulan bulan di
danau jadi bergelombang.
Yonghwa kemudian membalikkan badannya dan bersandar pada pagar tersebut
kedua tangannya di silangkannya di depan dadanya. Pandangannya lurus tepat ke
arah seohyun.
“ Menurut yang aku baca, bulan sangatlah mempengaruhi orang yang berbintang
Cancer sepertiku “, sahut Yonghwa. “ Katanya bulan menentukan kestabilan mood
kami. Oh ya, apa bintangmu Seohyun ? “, tanya Yonghwa.
Jadi kami berdua kebetulan lagi berbintang sama, guman Seohyun dalam hati.
“ Cancer “, jawab Seohyun singkat.
“ Ehh jangan berbohong “, kata Yonghwa sambil menunjuk Seohyun tak percaya.
“ kau lahir bulan Juni atau Juli ? “.
“ Juni “.
“ Woah “, ucap Yonghwa. “ Tanggal ? “.
“ Kau terdengar seperti petugas sensus “, umpat Seohyun pelan.
“ Ehhh, ayolah tanggal berapa ? “.
“ 28 Juni “.
“ Dan aku 22 Juni. Daebak !!”, sahut Yonghwa terdengar lebih seperti
sorakan. “ Sepertinya kita memang di takdirnya bersama. Kita lahir di bulan
yang sama dan berbintang yang sama. Sempurna kan ? “.
Seohyun mendengus. Benci bahwa setelah sekian kebetulan yang di dapatkan
tentang dirinya dan Yonghwa sekarang kebetulan itu bertambah dan sepertinya
akan terus bertambah.
Kebetulan kan cuma terjadi sekali.
“ Jangan bilang kalau kau mempunyai golongan darah A ? “, kali ini Yonghwa
bertanya dengan nada curiga sambil menatap Seohyun dengan pandangan menyidik.
Seohyun mengangguk dan Yonghwa menatapnya tak percaya.
“ Daebak !! “.
Yonghwa lalu kembali duduk di samping Seohyun dengan senyum yang mereka di
wajahnya. Wajahnya terlihat bangga, entah apa yang membuatnya bangga, Seohyun
sendiri tidak bisa menduganya.
“ Kalau salah satu diantara kita membutuhkan darah, maka kita bisa saling
mendonorkan darah kita, bukankah itu sangat romantis ? “.
Kalau memang benar bulan mempengaruhi mood para Cancer. Maka dengan melihat
Yonghwa , Seohyun mau tak mau membenarkan anggapan tersebut. Pria di sampingnya
bertingkah laku seperti anak SD yang di beri permen. Choding Yonghwa.
“ Percayalah aku lebih menyukai menjadi orang yang mendonorkan darah “,
kata Seohyun sambil menghirup kopinya yang tak lagi hangat.
“ Dan kalau kau yang mendonorkan darah aku akan dengan sukarela..... “.
“ Bicara apa kau ini “, potong Seohyun ketus. Demi Tuhan, jangan sampai ada
diantara mereka berdua yang harus mengalami hal yang buruk harap Seohyun dalam
hati.
“ Maaf “, ucap Yonghwa sambil memegang kedua kupingnya sambil mengedipkan
matanya berkali-kali.
Seohyun menghela napas sambil mengibaskan tangannya sebagai tanggapan
permintaan maaf Yonghwa.
“ Apakah kita akan menunggu hingga tengah malam di sini ? “, tanya Seohyun
setelah mereka diam untuk beberapa saat.
“ Apakah kau sudah ingin pulang ? “. Yonghwa balik bertanya.
“ Tidak “. Seohyun menggeleng.
“ Katanya saat tengah malam kita bisa meminta permohonan sambil menatap
supermoon “.
“ Apakah kau percaya hal seperti itu ? “, tanya Seohyun sambil berpaling
menatap Yonghwa.
“ Sebenarnya tidak sih “, jawab Yonghwa sambil mengedipkan bahunya. “ Tapi
tak ada salahnya kan ? toh tidak rugi ini “, lanjutnya.
Benar, ucap Seohyun dalam hati.
“ Memangnya kau akan meminta apa ? “, tanya Seohyun.
“ Seojuhyun, apakah kau tidak tahu peraturan utama dari sebuah permohonan ?.
Yonghwa menatap Seohyun dengan mimik tak percaya dengan apa yang di tanyakan
Seohyun. “ Jangan pernah memberitahaukan
orang lain permohonan apa yang kau minta “. Kata Yonghwa sambil
menggoyang-goyangkan telunjukkan di depan wajah Seohyun.
Untuk pertama kalinya Seohyun tersenyum.
“ Ahh “, desah Yonghwa lega. “ Aku senang akhirnya senyum itu muncul “,
kata Yonghwa sambil menunjuk bibir Seohyun yang sedang tersenyum.
Senyum di bibir Seohyun semakin melebar. Mungkin memang sebaiknya dia
menikmati saja malam ini. Rasanya sia-sia malam seindah ini dia hanya cemberut
dan menggerutu, pikir Seohyun dalam hati.
“ Aku baru saja akan mencari siapa gerangan yang sudah mencuri senyuman
dari wajahmu. Aku akan menuntutnya dengan hukuman seumur hidup “, canda
Yonghwa.
Seohyun tertawa kecil dan Yonghwa merasa dia kejatuhan bulan. Suara tawa
Seohyun begitu merdu memecah malam dan membuatnya terpana.
“ By the way, kau membuatku merasa menlihat seorang peri cantik tadi “,
ucap Yonghwa. Seohyun menatap Yonghwa tak mengerti. “ Tadi aku melihatmu sedang
mendongeng untuk anak-anak di klinik tempat Yoona “.
“ Ehhh kau bohong kan ? “.
“ Tentu saja tidak ! “.
“ Hah “, Seohyun menarik napas. Sekarang dia tahu mengapa tadi Yoona hanya
senyum-senyum saat mengantarnya ke mobil. “ Apakah kau memata-mataiku ? “.
“ Tidak sepenuhnya benar tapi tidak salah juga sih “, Yonghwa terkekeh. “
Anak-anak itu terlihat sangat memujamu. Huh sainganku bertambah banyak dan aku
takkan menang melawan mereka “, umpat Yonghwa pura-pura kesal.
“ kapan-kapan aku mau dong di dongengi kamu “, goda Yonghwa membuat Seohyun
menepuk lengannya dengan keras. “ Aduh ! sakit “, jerit Yonghwa sambil
mengusap-usap lengannya.
“ Kau ini ! “, sahut Seohyun dengan meyesal. “ Berhentilah menggodaku atau
kau akan aku tendang masuk ke dalam kolam danau di depan kita “, ancamnya
dengan nada suara yang dibuat tegas.
“ Ya ampun, apakah kau serius ? “.
“ Tentu saja “.
“ Bagaimana caranya ? “.
“ Bukankah aku tukang sihir ? “.
Yonghwa tertawa terbahak-bahak membuat beberapa orang yang ada di
sekeliling mereka menjadi berpaling kearahnya. “ Oh mengapa aku lupa akan hal
itu, kau akan menyihrku menjadi bebek dan menedangku masuk ke danau. Apakah aku
harus memohon ampun ? “, goda Yonghwa setelah berhasil meredakan tawanya.
Seohyun menggelengkan kepalanya tak percaya betapa Yonghwa begitu sangat
antusias bila menggodanya.
“ Sepertinya sebentar lagi tengah malam. Mengapa kau tidak menyebutkan
permohonanmu ? “, Seohyun mengingatkan sambil melihat ke jam tangan mungil yang
melingkar di pergelangan tangannya. Sebelas kurang lima menit.
Yonghwa memukul kepalanya pelan lalu berdiri dan melompat kecil mendekati
pagar pembatas danau. Lalu Yonghwa naik ke pagar ecil tersebut membuat Seohyun
terpekik.
“ Ya ampun, kau bisa jatuh ! “, seru Seohyun memperingatkan. Yonghwa hanya
berpaling dan tersenyum.
“ Aku harus lebih dekat ke arah bulan bila ingin terkabulkan permohonanku
“, Yonghwa memberi alasan lalu dia kemudian merentangkan kedua tangannya sambil
menatap ke arah bulan yang sedang bercahaya dengan terangnya.
Seohyun menatapnya dengan pandangan ngeri, Yonghwa bisa kecebur ke dalam
danau bila posisinya seperti itu.
“ Hati-hati nan................. “. Dan sebelum sempat menyelesaikan
kalimatnya Seohyun menjerit tertahan.
Yonghwa tak
sempat menyeimbangkan tubuhnya saat pagar yang di naikinya tiba-tiba oleng dan
membuatnya terjatuh masuk ke dalam kolam. Yang pertama Yonghwa sadari adalah
air kolam itu begitu dingin dan kepalanya sempat terbentur ke dasar pinggiran
kolam yang sedikit kasar. Yang terakhir didengar Yonghwa adalah jeritan
tertahan Seohyun.
Kolam danau tersebut tidaklah dalam tapi sekujur badan Yonghwa sudah basah
kuyub. Yonghwa mencoba berdiri dan menadang sekeliling yang tiba-tiba di penuhi
oleh orang yang sedang menontonnya sementara Seohyun terlihat sangat terkejut
dan memandangnya penuh khawatir. Tiba-tiba dengan konyolnya Yonghwa merasa
tubuhnya hangat.
“ Apakah kau baik-baik saja ? “, sahut Seohyun.
Yonghwa menganggukkan kepalanya. “ Dingin ! “, teriak Yonghwa sedikit
menggigil. Di lihatnya beberapa laki-laki mengulurkan tangan kearahnya dan
Yonghwa dengan senang hati menyambutnya dan mereka membantu Yonghwa keluar dari
danau tersebut.
“ Kau ini memang gila, kan sudah aku bilang, jangan melakukan hal itu tapi
kau tak mau mendengar, kalau ada apa-apa bagaimana ? lihat seluruh tubuhnmu basah
kuyub dan udara sedingin ini. Sialan Yonghwa kau bisa kena radang paru-paru “, omel Seohyun tak henti sambil mendekati Yonghwa
dan melepaskan jaketnya dan serta merta menutupi tubuh Yonghwa yang basah. Di
matanya kembali terpancar tatapan penuh rasa khawatir.
“ Hei, aku kan cuma basah, tidak akan mati kok “, kata Yonghwa mencoba
menenangkan Seohyun. Dan setelah itu dia mulai bersin karena udara yang dingin
dan tubuhnya yang basah.
“ Sebaiknya kita pulang. Kau harus segera menghangatkan dirimu. Tapi apakah
kau baik-baik saja ? “.
“ Aku baik-baik saja Seohyun cuma seakarang aku sedang kedinginan. Air
danau itu bukan main dinginnya “. Dan Yonghwa kembali bersin berulang-ulang
badannya bergetar.
Seohyun mengucapkan terima kasih pada orang-orang yang telah menolong
Yonghwa lalu dia membimbing Yonghwa yang tak henti-hentinya bersin dan badannya
mulai menggigil berjalan kearah mobil yang terparkir.
Seohyun mendudukkan Yonghwa di kursi penumpang dan dia kemudian meminta
kunci mobil Yonghwa lalu masuk ke dalam mobil duduk di belakang kemudi. Yonghwa
terdiam dan menyandarkan tubuhnya ke kursi, dia masih menggigil, kesadarannya
perlahan menurun dan Seohyun menyalakan penghangat mobil. Sesaat Seohyun tak
tahu harus membawa Yonghwa kemana ? ke apartemennya ? Seohyun bahkan tidak tahu
di mana letak apartemen Yonghwa sedangkan dia secepatnya harus menghangatkan
dirinya atau dia akna terserang radang paru - paru.
Setelah lama Seohyun memutuskan membawa Yonghwa ke rumahnya. Lebih cepat
lebih baik.
♥ ♥ ♥
Bukan mudah memapah tubuh Yonghwa yang lebih besar dari dirinya, apalagi
Yonghwa sudah mulai tak sadarkan diri karena rasa dingin yang menyerangnya.
Tubuh Yonghwa panas dan itu membuat Seohyun sangat khawatir.
Setelah bersusah payah memegang Yonghwa biar tak terjatuh. Seohyun berhasil
membuka pintu rumahnya dan menyalakan tombol lampu yang tak jauh dari pintu.
Mendudkkan Yonghwa ke sofa lalu Seohyun berlutut dan membuka sepatu dan kaos
kaki Yonghwa. Kaki Yonghwa terlihat sangat pucat dan berkerut karena dingin.
Setelah itu Seohyun membawa Yonghwa naik ke lantai atas dan meletakkan Yonghwa
ke atas tempat tidurnya.
Seohyun membuka jaket yang tadi dipakaikannya, lalu perlahan menarik
sweater yang basah dari kepala Yonghwa setelah sebelumnya dia berusaha keras
menarinya naik ke leher Yonghwa. Kemudian Seohyun membuka kemeja Yonghwa,
melepaskannya dan melemparkannya ke lantai tempat semua pakaian Yonghwa
tergeletak.
Sejenak Seohyun terpaku. Pipinya tiba-tiba merona dan wajahnya memerah.
Seohyun merasa malu sendiri. Membuka sweater dan kemeja Yonghwa adalah hal yang
bisa di lakukannya, bagaimana dia harus melepaskan celana Yonghwa ?
Merasa tak ada cara lain, Seohyun harus secepatnya melepaskan celana
tersebut. Pelan-pelan Seohyun menyelimuti Yonghwa dan dengan menahan napas
Seohyun melepaskan ikat pinggang dan kancing celana Yonghwa dan menarik
resletingnya turun hingga terbuka. Buru-buru Seohyun melepaskan tangannya dan
menyelimuti Yonghwa hingga ke lehernya. Dan Seohyun kemudian menarik celama
Yonghwa dari bawah, menariknya hingga celana tersebut lepas dari kakinya.
Seohyun menarik napas lega, dia tidak perlu harus melepaskan celana dalam
Yonghwa kan ? Lalu setelah menggelengkan kepalanya menepis pikiran aneh yang
tiba-tiba merasuki otaknya Seohyun mengumpul semua pakaian Yonghwa yang basah
dan membawanya ke ruang kecil tempat dia menyimpan mesin cucinya. Menyalakan mesin
tersebut lalu memasukkan pakaian Yonghwa ke dalamnya dan menekan tombol on.
Seohyun kembali melangkah ke dalam kamarnya. Memegang kening Yonghwa yang
mulai panas. Seohyun membuka lemari dan menarik lagi satu selimut besar dari
dalamnya dan menyelimuti Yonghwa biar dia merasa hangat. Seohyun lalu mengecek
suhu tubuh Yonghwa dengan digital termometer yang di ambilnya dari kotak P3K
yang di letakkannya di meja hiasnya. 38 derajat celcius. Yonghwa demam.
Seohyun buru-buru turun ke bawah dan mengambil obat penurun panas lalu
mengisi air ke dalam segelas air lalu kembali ke atas. Seohyun lalu duduk di
tepi ranjang, menuangkan cairan obat tersebut ke sendok dan membuka mulut
Yonghwa dan memasukkan obat tersebut ke dalam mulutnya. Lalu beberapa kali
menyendokkan air putih.
Setelah meyakinkan bahwa Yonghwa sudah cukup hangat dengan selimut yang
menyelimutinya. Seohyun membuka lemari dan menarik baju kaos dan celana jumper
panjang. Dia juga harus mengganti pakaiannya.
Seohyun kemudian mengganti bajunya di dalam kamar mandi, kembali ke lantai
bawah menyalakan kompor dan menjerang air. Seohyun butuh menghangatkan dirinya
juga. Secangkir teh hangat sudah cukup untuknya.
Jam di dinding sudah menunjukkan pukul dua dini hari. Seohyun menguap, dia
letih setelah semua yang di alaminya hari ini. Tapi dia tetap harus mengecek
keadaan Yonghwa. Dia tidak boleh terlelap.
Seohyun mematikan lampu dapur melangkah naik dan membiarkan lampu di ruang
TV tetap menyala. Seohyun mengecek keadaan Yonghwa. Seohyun meletakkan punggung
tangannya ke kening Yonghwa dan masih terasa hangat. Seohyun menarik kursi meja
riasnya menempatkannya tepat di sisi tempat tidur dan memandangi wajah Yonghwa
yang tertidur.
Wajah Yonghwa tak di pungkiri memang tampan. Jika dia sering bergurau bahwa
dia adalah pengacara idaman para wanita mungkin itu memang benar. Yonghwa yang
kadang-kadang terlihat kekanakan tapi memiliki rasa perhatian yang tinggi.
Jadi tadi Yonghwa datang ke klinik Yoona, menatapnya dari jendela. Berapa
lama dia di klinik ?
Tiba-tiba Yonghwa bergerak gelisah dan mulutnya mulai mengigau. Seohyun
memperbaiki letak selimut yang sedikit tersingkap karena Yonghwa bergerak. Kembali
Yonghwa mengigau dan samar-samar Seohyun medengar namanya di sebut. Hati
Seohyun berdesir pelan.
Yonghwa mengerang dan Seohyun kembali menempelkan tangannya ke kening
Yonghwa. Sepertinya dia masih juga demam karena badannya masih juga hangat. Seohyun
menarik napas dan menghembuskannya keras-keras saat dia kembali duduk ke
kursinya.
Seohyun tak pernah mengira bahwa dalam perjalanan hidupnya dia akan bertemu
dengan Yonghwa. Mereka bahkan sudah menikah walaupun mereka berdua tak
menginginkannya. Mereka mempunyai banyak kesamaaan di mulai dari keenganan
mereka untuk berkomitmen, alergi terhadap pernikahan hingga ke golongan darah
mereka yang sama.
Seohyun tidak tahu akan sampai mana kehidupan ini akan mempermainkan mereka
berdua. Seohyun kembali menguap, matanya sudah terasa sangat berat. Perlahan di
letakkannya kepalanya pada kedua
tangannya di kasur dan menutup matanya perlahan.
Hanya sekedar menutup mata, pikirnya. Tapi kemudian Seohyun terlelap.
♥ ♥ ♥
Yonghwa perlahan membuka matanya yang terasa berat. Kepalanya pusing saat dia berusaha mengangkat kepalanya jadi dia memutuskan kembali berbaring. Perlahan matanya menyesuaikan cahaya ruangan yang tadinya membuatnya silau. Ada dimana dirinya ?
Kamar ini tidak asing, pikir Yonghwa lalu perlahan kepalanya di miringkan
dan melihat Seohyun yang sedang tertidur di sampingnya. Rupanya dia berada di
kamar Seohyun. Yonghwa menarik tangannya dari balik selimut dan memegang
kepalanya. Ketika dia menyadari bahwa dia sedang tidak memakai baju. Panik,
Yonghwa mengangkat selimutnya sehingga dia bisa melihat tubuhnya yang hanya
memakai celana dalam.
Apakah Seohyun sudah menelanjanginya ?
Yonghwa menepis pikiran anehnya dan kembali perpaling ke arah Seohyun. Perlahan
di sentuhnya rambut Seohyun. Dia pasti sudah menyusahkan wanita tersebut
semalam.
Yonghwa kembali mengingat-ingat kejadian semalam. Dia tercebur ke danau, di
tolong oleh beberapa orang untuk keluar dari danau tersebut. Seohyun yang
buru-buru melepaskan jaketnya dan menyampirkan ke tubuh Yonghwa yang basah
kemudian dia ingat Seohyun memmelunya sambil berjalan ke mobil setelahnya dia
tidak ingat apapun lagi.
Yonghwa mengutuk kebodohannya yang sudah membuat Seohyun susah. Yonghwa
menengok ke jendela, cahaya terang nampak dari luar. Sudah jam berapa ini ?
Tiba-tiba Yonghwa merasa Seohyun bergerak, lalu buru-buru dia memejamkan
matanya. Dia tidak mau ketahuan sudah bangun. Dengan mata terpejam Yonghwa
mencuri –curi pandang. Di lihatnya Seohyun mengusap wajahnya lalu meregangkan
kedua tangannya. Lalu bergerak mendekati Yonghwa dan memegang keningnya.
Tangan Seohyun terasa hangat saat menyentuhnya. Yonghwa berusaha menahan
napasnya agar tetap stabil walaupun kenyataannya jantungnya seperti mau
melompat keluar dari tubuhnya. Seohyun terlihat lega setelah menyentuh
keningnya.
Apakah semalam panas tubuhnya cukup tinggi ?
Di dengarnya suara gorden yang tersibak dan cahaya matahari yang tidak
terlalu cerah pagi ini menembus masuk. Dan Yonghwa masih berusaha membuat
dirinya terlihat sedang tidur.
Jadi semalaman Seohyun telah merawatnya, mengecek panas badannya setiap
saat. Seohyun pasti kelelahan apalagi tidur dengan posisi yang tak enak hingga
pagi. Jadi begini rasanya bila sedang di rawat oleh istri sendiri ? Yonghwa tak
sadar dia tersenyum.
“ Apakah kau sudah bangun ? “, tanya Seohyun tiba-tiba. Yongha
mengkedip-kedipkan matanya berusaha terlihat baru bangun. Demi Tuhan, dia tidak
mau ketahuan bahwa sedari tadi dia sudah bangun. “ Apakah masih terasa sakit ? “,
tanya Seohyun mendekat ke arah Yonghwa.
Seohyun di pagi hari terlihat begitu cantik dan tatapan matanya yang masih
menyirapkan rasa khawatir bagaikan sejuta obat yang bisa menyembuhkan segala
jenis penyakit.
“ Kepalaku masih agak berat dan rasanya sedikit pusing “, guman Yonghwa. “
Apakah semalam aku demam ? “. Dilihatnya Seohyuj bernapas lega sambil
menganggukkan kepalanya.
“ Istrahatlah, aku akan membuatkan sarapan untukmu “, kata Seohyun sambil
membantu Yonghwa sedikit memperbaiki posisinya dengan menambah bandal yang
mengganjal kepalanya.
“ Terima kasih, maaf sudah merepotkan “, ucap Yonghwa pelan merasa tak enak
hati.
“ Lain kali bila ingin mengucapkan permintaan, lakukanlah dengan cara yang
wajar “, kata Seohyun sambil tersenyum dan membuat Yonghwa meringis malu
mengingat kelakuan konyolnya semalam.
Seohyun berjalan pinggir ranjang, mengambil sebuah kaos putih dan
menyerahkannya kepada Yonghwa. “ Pakailah ini, pakaianmu masih belum kering.
Aku harap baju itu cocok “. Setelah berkata seperti itu Seohyun buru-buru melangkah
keluar kamar, Yonghwa bisa melihat pipinya merona. Yonghwa kembali mendengat
suara gorden yang tersingkap dan cahaya menerangi ruangan di depan kamar.
Jadi benar Seohyun semalam telah melucuti semua pakaiannya kecuali celana
dalam yang mengering di tubuhnya. Yonghwa benar-benar telah menempatkan Seohyun
dalam situasi yang ganjil.
Yonghwa bisa mendengar suara langkah Seohyun menuruni tangga saat dia
memakai baju kaos yang di berikan Seohyun. Menyesali yang telah terjadi tetapi mensyukuri
selebihnya. Setelah seminggu, akhirnya dia kembali lagi ke rumah ini bahkan di
rawat dengan penuh sayang oleh Seohyun.
Well, tidak semua bencana selalu berakibat buruk kan ?
♥ ♥ ♥ ♥ ♥ ♥ ♥
Chapter Twenty One Chapter Twenty Three

3 komentar
Write komentarDan stelah semua bencana yg membawa anugrah itu,, kalian berdua tinggalah serumah,, wah nda kebayang betapa lebih ganjilx seohyun nantix,, wkwkwkwkwk,,
ReplyMsh setia baca ff kak zee,, semangat trus ya kak,,
makin penasaran ama kelanjutannya ... semangat kak zee bikin next chapternya ...
ReplyHahahah.. next chapter kak zee.. semangat.semangat.. muach.muach..
ReplyPlis, masukan dan saran kami harapkan dari anda. Silakan komentar EmoticonEmoticon